Sabtu, 22 Agustus 2009

DEFINISI TAUHID

DEFINISI TAUHID

Secara bahasa, tauhid berarti mengesakan atau menunggalkan.
Sedangkan secara istilah, tauhid artinya mengesakan Alloh swt dalam tiga hal berikut:

1. Mengesakan Alloh swt sebagai satu-satunya Robb.
Arti Robb adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur. Dia-lah Alloh swt satu-satunya yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, menyembuhkan, dan mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan.
Tauhid macam ini dinamakan Tauhid Rububiyah.

Alloh swt berfirman:

"Sesungguhnya Robb kalian adalah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutup malam dengan siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh. Maha suci Alloh, Robb semesta alam.” [QS. al-A’raf (7): 54]


“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian. Adakah Pencipta selain Alloh yang dapat memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada Robb selain dia, maka mengapakah kalian berpaling (dari tauhid)?” [QS. Fathir (35): 3]


2.
Mengesakan Alloh swt sebagai satu-satunya Ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi.

Ibadah dengan segala bentuknya seperti sholat, berdoa, bertawakal, takut, mengharap, berkurban dan lain sebagainya hanya boleh ditujukan kepada Alloh swt .
Mengesakan Alloh swt dalam hal ini disebut Tauhid Uluhiyah.
Alloh swt berfirman:


“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh semata dan jauhilah thaghut’.” [QS. an-Nahl (16): 36]

“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku’.” [QS. al-Anbiya’ (21): 25]


3.
Meyakini bahwa hanya Alloh swt satu-satunya yang memiliki nama-nama yang Maha Indah dan sifat-sifat yang Maha Tinggi.


Seperti Maha mendengar, Maha melihat, Maha berilmu, Maha bijaksana, Maha berkuasa, dan lainnya.
Tidak ada satu pun yang menyerupai Alloh dalam nama-nama dan sifat-sifat tersebut.
Mengesakan Alloh swt dalam hal ini disebut Tauhid Asma' was Shifat.
Alloh swt berfirman:

“Dialah Alloh Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui perkara yang ghoib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Alloh Yang tiada ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Maha Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki segala keagungan, Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Alloh Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Mengadakan, Yang Maha Membentuk rupa, Yang Maha Mempunyai nama-nama yang paling baik. Senantiasa bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. al-Hasyr (59): 22-24]

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. asy-Syuro (42): 11]

KEDUDUKAN TAUHID

Tentang keagungan dan keutamaannya yang besar, dapat kita selami dari penjelasan berikut:
1. Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia.
Alloh swt berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [QS. adz-Dzariyat (51): 56]
Arti dari لِيَعْبُدُونِ (supaya mereka beribadah kepada-Ku saja) adalah لِيُوَحِّدُوْنَ (supaya mereka mentauhidkan-Ku).


2. Alam semesta tegak di atas tauhid.
Alloh swt berfirman:

“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang mempunyai ‘arsy (singgasana) dari apa yang mereka sifatkan.” [QS. al-Anbiyâ’ (21): 22]

3. Siapa yang berbuat syirik dan meninggalkan tauhid, maka akan kekal di neraka.
Alloh swt berfirman:

“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, niscaya Alloh mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zolim itu seorang penolong pun.” [QS. al-Mâ’idah (5): 72]

4. Alloh swt tidak mengampuni dosa syirik, bila pelakunya mati sebelum bertaubat.
Alloh swt berfirman:

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutu-kan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. an-Nisâ’ (4): 48]

5. Siapa yang memegang tauhid dan tidak berbuat syirik, pada akhirnya akan masuk surga, sebesar apapun dosanya.
Rosululloh saw bersabda:

“Seorang laki-laki dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk pada hari kiamat. Kemudian ditampakkan kepadanya sembilan puluh sembilan lembar catatan (amal perbuatan). Setiap lembarnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan padanya: ‘Apakah engkau mengingkari ini?’. Ia berkata: ‘Tidak, wahai Robb!’. Lalu dikatakan: ‘Apakah engkau memiliki suatu kebaikan?’. Maka laki-laki itupun tertunduk karena haibah (keagungan Alloh) sambil berkata: ‘Tidak wahai Robb!’. Maka dikatakan: ‘Tidak demikian. Karena engkau masih memiliki kebaikan di sisi Kami, dan kamu tidak akan dizolimi!’. Maka dikeluarkan untuknya sebuah bithoqoh (kartu amal) yang di dalamnya ada kesaksian ‘Asyhadu an Lâ Ilâha illalloh wa Asyhadu anna Muhammadar Rosûlulloh . Maka orang itu berkata: ‘Wahai Robbku, apakah artinya bhitoqoh seperti ini?’. Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu pada hari ini tidak akan dizolimi.’ Kemudian sembilan puluh sembilan lembar catatan tersebut diletakkan dalam satu sisi timbangan dan dalam sisi yang lain, maka bhitoqoh itupun lebih berat.” (HR. Tirmidzi dan Hâkim)

6. Tauhid merupakan sebab utama terhapusnya dosa-dosa.

Dalam hadits Qudsi, Alloh swt berfirman:
((يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً ))
“Wahai anak cucu Adam, seandainya engkau datang menemui-Ku
dengan membawa kesalahan (dosa) sepenuh bumi namun dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun (tidak syirik kepada-Ku), niscaya Aku akan menemuimu dengan membawa magfiroh (ampunan) sepenuh bumi pula!” (HR. Tirmidzi)

7. Barangsiapa yang tauhidnya tidak tercemar dengan kesyirikan sedikitpun maka dia termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dan keamanan dari Alloh swt.

Alloh swt berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencemari keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan hidayah." [QS. al-An'am (6): 82]

8. Tauhid adalah hak Alloh swt yang paling besar.


Rosululloh saw pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ra :
(( يَا مُعَاذُ أتَدْرِي ما حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ))

“Wahai Muadz, tahukah engkau, apakah hak Alloh atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Alloh?' Maka Mu’adz menjawab: ‘Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu.’ Lalu beliau bersabda: ‘Hak Alloh atas para hamba-Nya adalah hendaknya mereka menyembah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya, sedangkan hak para hamba terhadap Alloh adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya’.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Yang pertama kali diserukan para nabi kepada kaumnya adalah tauhid.

Alloh swt berfirman:

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thoghut itu’...” [QS. an-Nahl (16): 36]

Tentang Nabi Nuh as Alloh swt berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada ilah bagi kalian selain-Nya." Sesungguhnya aku takut jika kalian ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).” [QS. al-A’rof (7): 59]
Demikian pula para nabi dan rosul-Nya yang lain, yang pertama kali mereka serukan adalah tauhid.
Dari paparan di atas, sangat jelas sekali demikian agung dan pentingnya kedudukan tauhid dalam Islam dan demikian sangat berbahaya pelanggarannya, yaitu syirik. Bahkan seluruh ritual peribadatan dalam Islam adalah realisasi dari tauhid itu sendiri, dan tujuannya pun harus tauhid!
Jika tidak demikian, maka sia-sialah seluruh peribadatan tersebut! Na’udzubillah!

LAWAN TAUHID ADALAH SYIRIK


A. Arti Syirik
Secara bahasa, syirik artinya menyekutukan atau menjadikan sesuatu memiliki syarik (sekutu).
Sedangkan secara istilah, syirik artinya menyekutukan Alloh swt dengan sesuatu.
Syirik bisa terjadi dalam tiga hal:
1. Dalam Rububiyah.
Contoh syirik dalam rububiyah:
• Berpendapat bahwa alam semesta terjadi dengan sendirinya, tanpa ciptaan al-Kholiq.
• Meyakini ada dzat selain Alloh swt yang mampu memberikan manfaat atau mudhorot.
• Meyakini ada dzat selain Alloh swt yang mampu melindungi manusia dari marabahaya

atau mengeluarkan mereka dari kesulitan.
2. Dalam Uluhiyah.
Contoh syirik dalam uluhiyah:
• Berdoa atau memohon kepada selain Alloh swt .
• Sujud kepada selain Alloh swt.
• Memakai jimat-jimat dengan keyakinan bahwa ia sanggup menolak bencana.
3. Dalam Asma' was Shifat.
Contoh syirik dalam asma' wa shifat:
• Meyakini ada seorang makhluk yang memiliki sifat-sifat seperti Alloh swt.
• Memberikan nama untuk sesuatu (misalnya berhala) dengan nama-nama Alloh swt.

B. Ancaman bagi Pelaku Syirik.


1. Siapa yang berbuat syirik maka gugurlah seluruh amal-amal sholehnya.
Alloh swt berfirman:
“Itulah petunjuk Alloh, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Alloh, niscaya gugurlah amal-amal yang telah mereka kerjakan.” [QS. al-An’am (6): 88]

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu. 'Jika kamu mempersekutukan Alloh, niscaya gugurlah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [QS. az-Zumar (39): 65]

2. Syirik adalah kesesatan dan kezholiman yang paling besar.
Alloh swt berfirman:

“Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. an-Nisa’ (4): 116]

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh (syirik), sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang besar." [QS. Luqman (31): 13]

3. Siapa yang berbuat syirik dan tidak bertaubat sampai meninggalnya maka Alloh swt sekali-kali tidak akan mengampuni dosanya.
Alloh swt berfirman:
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. an-Nisa’ (4): 48]

4. Siapa yang berbuat syirik dan tidak bertaubat sampai meninggalnya maka ia akan kekal di neraka jahannam.
Alloh swt berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yaitu ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk." [QS. al-Bayyinah (98.): 6].

Rosululloh saw bersabda:
(( مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ ))
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu, niscaya akan masuk surga, dan barangsiapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Alloh dengan sesuatu, nis
caya masuk neraka.” (HR. Muslim)

5. Syirik akbar (besar) menghalalkan darah dan harta seseorang.


Rosululloh saw bersabda:
(( أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ ))
“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak
disembah delain Alloh dan bahwa Muhammad adalah Rosululloh, serta menunaikan sholat dan membayarkan zakat. Jika mereka telah melakukannya maka terlindungilah darah dan harta mereka kecuali dengan haknya Islam.” (HR. Muslim).

6. Barangsiapa berbuat syirik, maka seolah-olah dia terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau dibawa angin ke suatu jurang yang dalam.
Alloh swt berfirman:
“...Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [QS. al-Hajj (22): 31]

7. Barangsiapa yang berbuat syirik maka ia akan dikuasai oleh setan.
Alloh swt berfirman:
“Sesungguhnya kekuasaan setan itu hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya (setan tersebut) sebagai pemimpin dan mereka yang mempersekutukannya dengan Alloh.” [QS. an-Nahl (16): 100]

8. Alloh tidak akan menerima alasan berbuat syirik karena mengikuti tradisi orang-orang tua terdahulu (nenek moyang).
Alloh swt berfirman:
"Dan (ingatlah), ketika Robbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah aku ini Robb kalian?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Robb kami), kami menjadi saksi'. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Robb)'. Atau agar kalian tidak mengatakan: 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Robb sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?' Dan Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." [QS. al-A'raf (7): 172-174].

C. Macam-macam Syirik.
Syirik terbagi dalam dua macam, yaitu:
1. Syirik Akbar (syirik besar).
2. Syirik Ashghor (syirik kecil).
Perbedaan antara syirik akbar dan syirik ashghor:

- Syirik akbar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik ashghor tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam.
- Syirik akbar menggugurkan semua amal-amal soleh yang pernah dilakukan oleh seseorang, sedangkan syirik ashghor hanya menggugurkan amal soleh yang disertai syirik ashghor tersebut.
- Syirik akbar akan mengekalkan pelakunya di neraka, sedangkan syirik ashghor jika Alloh swt berkehendak untuk menyiksanya maka tidak akan kekal di neraka.
- Pelaku syirik akbar jika tidak bertaubat sebelum meninggal maka tidak akan terampuni dosanya, sedangkan pelaku syirik ashghor jika tidak bertaubat sebelum meninggalnya maka ia terancam dengan adzab yang sangat pedih, akan tetapi jika Alloh swt menghendaki maka Dia akan mengampuninya.

CONTOH BENTUK KESYIRIKAN YANG WAJIB DI JAUHI SEJAUH-JAUHNYA

Di antara contoh bentuk-bentuk kesyirikan, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang wajib dijauhi sejauh-jauhnya adalah:
1. Sihir.

Sihir dengan segala bentuknya, seperti: pelet, santet, tenung, mahabbah (pengasih) dan lain sebagainya, termasuk perbuatan syirik karena para pelakunya tidak akan dapat melancarkan sihirnya kecuali dengan pertolongan setan. Mereka akan ditolong oleh setan setelah mereka mempersembahkan suatu bentuk peribadatan atau melakukan suatu kekufuran seperti membaca mantar-mantra kufur, menyembelih hewan persembahan, meletakkan al-Qur'an di tempat yang najis, dan sebagainya.

2. Memohon kekayaan, jodoh atau yang lainnya dari selain Alloh swt, baik secara langsung maupun melalui dukun atau paranormal.

3. Mempercayai ramalan.

Di kalangan masyarakat Jawa sangat terkenal sekali ramalan Joyoboyo. Tidak sedikit orang yang percaya penuh dengan ramalan tersebut. Di samping itu ada pula ramalan bintang (zodiak) dan ramalan berdasarkan garis atau guratan tangan. Sebagian lagi percaya dengan buku-buku Primbon, seperti Primbon Jawa dan sebagainya. Kepercayaan seperti ini termasuk syirik, karena menyandarkan ilmu ghoib kepada selain Alloh swt. Padahal hanya Alloh swt sajalah yang mengetahui semua perkara ghoib.
Alloh swt berfirman:

"Sesungguhnya hanya pada sisi Alloh saja-lah ilmu tentang hari kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, serta mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan didapati besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha dalam ilmu-Nya." [QS. Luqman (31): 34]

4. Pengobatan alternatif dengan menggunakan bantuan jin.

Pengobatan yang dibenarkan dalam Islam hanya dengan dua cara yaitu:
a. Terapi secara medis (kedokteran) atau menggunakan bahan-bahan yang mengandung khasiat obat seperti habbatus sauda' (jintan hitam), madu, dan jamu-jamuan dan obat-obat kimiawi yang dibuat atas dasar percobaan medis dan lainnya, atau penanganan fisik langsung seperti bekam, urut, refleksi dan sebagainya.
b. Ruqyah (jampi) yang disyariatkan, yaitu menjampi dengan ayat-ayat al-Qur'an atau doa-doa yang tidak mengandung kesyirikan.

Adapun pengobatan dengan cara-cara aneh selain dengan dua cara di atas tidak dibenarkan dan termasuk perbuatan syirik. Cara-cara aneh itu seperti memindahkan penyakit dari manusia ke hewan atau membaca mantra-mantra aneh yang tidak jelas maknanya atau menulis mantra di kulit telur, atau pengobatan jarak jauh, dan cara-cara aneh lainnya. Cara-cara tersebut sangat dilarang dalam Islam meskipun para dukun yang melakukannya mengaku bahwa pengobatan tersebut menggunakan tenaga dalam murni atau pengobatan alternatif atau digali dari al-Qur'an dan kedok-kedok lainnya. Dewasa ini pengobatan alternatif banyak ditampilkan di layar televisi dan diiklankan di media massa serta tidak sedikit orang yang terkecoh dengannya.

5. Jampi-jampi syirik.

Yaitu jampi yang bukan dari ayat-ayat al-Qur'an atau doa-doa yang diajarkan oleh Rosululloh saw. Membaca atau mengucapkan jampi-jampi (mantra-mantra) yang mengandung kesyirikan atau pengagungan kepada raja jin, atau permohonan kepada selain Alloh swt termasuk perbuatan syirik.

6. Menyembelih hewan persembahan sebagai tumbal.

Sebagian orang ada yang menyembelih kerbau atau hewan lain ketika hendak membangun rumah, lalu kepala kerbau tersebut ditanam di tanah. Sebagian lagi mempersembahkan tumbal kepada tempat-tempat tertentu untuk mendapatkan kekayaan (pesugihan). Sebagian lagi memenuhi permintaan dukun yang mensyaratkan hewan dengan sifat-sifat tertentu seperti ayam hitam atau yang lainnya untuk disembelih dengan tidak menyebut nama Alloh swt. Semua perbuatan itu termasuk syirik, karena menyembelih hewan untuk persembahan adalah ibadah dan tidak boleh ditujukan kepada selain Alloh swt.
Alloh swt berfirman:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya shalatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh Robbul 'alamin'. Tiada sekutu bagi-Nya dan dengan itulah aku diperintah serta aku adalah orang yang pertama-tama muslim." [QS. al-An'am (6): 162-163]


"Maka laksanakanlah shalat karena Robbmu; dan berkurbanlah (untuk Robbmu)." [QS. al-Kautsar (108): 2]

7. Ruwatan

Ruwatan adalah suatu ritual khusus untuk menjaga kesalamatan seseorang dari bahaya jin yang sering disebut Bethara Kala. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, ada orang-orang tertentu yang memiliki tanda-tanda kesialan diantaranya: anak tunggal laki-laki, anak tunggal perempuan, dua bersaudara laki-laki dan perempuan, dua bersaudara laki-laki, dua bersaudara perempuan, lima bersaudara laki-laki (pendawa), lima bersaudara perempuan (ngayomi), dan anak yang lahir pada saat matahari terbenam (julung wangi) atau ketika matahari tepat di atas kepala (pangayam ayam). Dipercaya bahwa orang-orang tersebut jika tidak diruwat, maka suatu saat akan tertimpa sial. Semua bentuk kesialan yang menimpa mereka itu disebabkan oleh sosok Bethara Kala. Bethara Kala adalah Butha (jin) yang suka memangsa orang-orang yang mempunya ciri-ciri khusus seperti tersebut di atas.
Ritual ini di mulai dengan sungkeman (salaman dengan mencium tangan) lalu dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit dengan judul cerita Murwakala. Setelah selesai pagelaran dilanjutkan dengan ritual potong rambut. Dalam ritual ini seluruh peserta satu-persatu dimandikan dengan air kembang. Selanjutnya acara puncak yaitu Larungan (mengantarkan dan menghanyutkan persembahan ke tengah sungai atau laut).
Kadang-kadang ritual tersebut dimaksudkan untuk menjaga keselamatan desa sehingga disebut dengan ruwatan desa atau bersih desa. Perbuatan ini jelas suatu kesyirikan karena meyakini ada selain Alloh swt yang mampu mendatangkan keselamatan atau kesialan. Padahal tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat atau mudhorot selain Alloh swt semata.

8. Memakai jimat

Bisa berupa secarik kertas yang bertuliskan beberapa huruf terputus-putus atau sebundel kain atau benda-benda pusaka seperti keris atau benda apa saja yang dipakai dengan keyakinan bisa menolak bencana atau menjaga seseorang.
Rosululloh saw bersabda:

(( إِنَّ الرُّقَى وَالتَّماَئِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ ))
"Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan pengasih itu syirik." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah; disohihkan oleh al-Albani).
(( مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ ))
"Barangsiapa yang menggantungk
an jimat maka ia telah syirik." (HR. Ahmad dan Hakim, disohihkan oleh al-Albani).

9. Mempersembahkan segala bentuk sesajen kepada makhluk

Sesajen itu bisa berupa dupa atau kemenyan, tumbal (binatang maupun manusia), makanan, bunga-bunga dan lain sebagainya.

10. Selamatan untuk Dewi Sri.

Sebagian masyarakat dari kalangan petani seringkali mengadakan ritual khusus ketika akan melakukan kegiatan turun ke sawah dalam rangka tanam padi, panen dan penyimpanan hasil panen. Ritual ini sering diistilahkan dengan selamatan. Tujuannya adalah untuk keselamatan sawah mereka dari serangan hama, tikus, kekurangan air atau banjir.
Inti dari ritual itu ialah peletakan sesajen (persembahan) yang ditujukan untuk Dewi Sri. Ritual ini jelas termasuk syirik karena para pelakunya memohon dan mengharap kepada selain Alloh swt akan sesuatu yang tidak dapat memberikannya selain Alloh swt.

Alloh swt berfirman:

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Alloh, yang tidak dapat memperkenankan (do'a-nya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka." [QS. al-Ahqaf (46): 5]

11. Mempersembahkan sesajen ketika membangun rumah

Bentuknya bermacam-macam. Yang paling umum adalah mengikatkan setandan pisang, buah kelapa dan beberapa bulir padi di atas palang kayu di puncak rumah yang sedang dibangun. Ada juga yang mengikatkan secarik kain berwarna merah putih di puncak rumah. Perbuatan ini masuk dalam kategori syirik karena hakekat dari tradisi tersebut tidak lain adalah memohon keselamatan dan perlindungan kepada selain Alloh swt. Sesajen yang dipersembahkan ketika hendak membangun rumah itu sebenarnya ditujukan kepada jin-jin -menurut mereka- menguasai wilayah tersebut.

12. Mengeramatkan kuburan

Biasanya yang dikeramatkan adalah kuburan para wali atau orang-orang soleh. Sebagian orang meyakini bahwa orang soleh yang telah dimakamkan di situ masih dapat memberikan karomahnya kepada orang-orang yang memintanya. Oleh karena itu, mereka datang ke kuburannya untuk mengharapkan keberkahan atau karomahnya. Ada yang mengharapkan anak, rizki, kesembuhan dari penyakit, dan lain-lain yang tidak boleh diminta kecuali kepada Alloh swt. Perbuatan semacam ini adalah syirik, karena ia memohon kepada selain Alloh swt akan hal-hal yang tidak mampu memberikannya kecuali Alloh swt.
Padahal Rosululloh saw telah bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ
"Jika kamu hendak memohon, maka mohonlah kepada Alloh. Jika kamu hendak meminta pertolongan, maka mi
ntalah pertolongan kepada Alloh." (HR. Tirmidzi).

13. Berdoa kepada Alloh swt melalui perantara orang yang telah mati

Sebagian orang ada yang berdoa kepada Alloh swt dengan kata-kata seperti ini: "Wahai Syaikh 'Abdul Qodir al Jailani, wahai waliyulloh, aku memohon syafa‘atmu di sisi Alloh swt agar Dia berkenan menyembuhkan penyakitku."
Orang ini berdoa kepada Alloh swt tetapi tidak langsung ditujukan kepada-Nya, ia berdoa kepada Alloh swt dengan perantara orang sholeh yang telah meninggal. Perbuatan ini sama saja dengan meminta kepada orang sholeh tersebut. Oleh karena itu, kita dapati orang-orang yang berdoa dengan kalimat di atas, hatinya tertunduk dan merendah kepada Syaikh 'Abdul Qodir, harapannya tertambat kepada Syaikh, bukan kepada Alloh swt.
Alloh swt berfirman mengutip perkataan orang-orang musyrik yang mengangkat perantara dalam peribadatan mereka kepada Alloh :
"Dan orang-orang yang mengangkat para pelindung selain Alloh (mereka berkata): 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya!'. Sungguh Alloh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan." [QS. az-Zumar (39): 3)


14. Memohon atau berdoa kepada selain Alloh SWT, baik yang dimohon itu malailat, nabi, ataupun wali.

Sebagian orang ada yang memanjatkan istighotsah (permohonan bantuan) kepada Nabi atau kepada orang-orang sholeh.
Sebagai contoh, al-Bushoiriy (Shufi sesat) dalam qosidah al-Burdahnya berkata:
يَا أَكْرَمَ الرُسُلِ مَا لِي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ اْلعَمَمِ
"Wahai rosul yang termulia, tidak ada bagiku tempat berlindung selain Engkau, ketika terjadi petaka yang meluas."
Dia memohon kepada Rosululloh saw dengan tadhorru' (mengiba) dan dengan menunjukkan kebutuhan
nya yang sangat, bahwa tidak ada tempat berlindung baginya ketika datang musibah besar kecuali kepada Rosululloh saw.
Perkataan ini jelas syirik, karena tidak ada tempat berlindung bagi para hamba selain kepada Robbnya semata, yaitu Alloh swt.
Alloh swt berfirman:
"Jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Yunus (10): 107]

15. Mempercayai atau memohon kepada khodam (pelayan) ghoib.

Sebagian orang ada yang mengamalkan wirid-wirid tertentu dengan tujuan mengundang khodam ghoib yang bisa dimintai pertolongannya. Sebenarnya apa yang mereka sebut dengan khodam itu tidak lain adalah jin. Sedangkan wirid yang mereka baca itu adalah wirid bid’ah yang tidak diajarkan oleh Rosululloh saw.

Allah swt Berfirman :
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. (72):6)

16. Ilmu kekebalan tubuh.
Kekebalan tubuh hanya bisa diperoleh dengan menggunakan bantuan jin. Oleh karena itu, ilmu ini termasuk syirik. Perlu diketahui bahwa Islam tidak pernah mengajarkan ilmu untuk mendapatkan kekebalan tubuh, ilmu menghilang, dan sebagainya. Semua itu adalah trik-trik setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lembah kesyirikan.

17. Pesugihan, yaitu membuat usaha seseorang menjadi maju atau dagangannya menjadi laris dengan bantuan dukun.
Hanya Alloh swt yang mampu melapangkan rizki seseorang atau menyempitkannya. Hanya kepada Alloh-lah manusia boleh memohon rizki. Adapun mencari kekayaan (pesugihan) dengan cara mendatangi tempat-tempat yang dianggap bertuah (seperti gunung Bromo), atau menaruh jimat-jimat pemberian dukun, atau melaksanakan syarat-syarat yang diminta oleh dukun, maka tidak diragukan lagi ini termasuk syirik.

18. Memasang susuk untuk kecantikan atau kewibawaan atau untuk menambah percaya diri (PD).
Itu semua termasuk syirik, karena tidak ada yang mampu membuat seseorang itu cantik, berwibawa dan seterusnya kecuali Alloh swt. Sedangkan praktek memasang susuk itu adalah salah satu layanan perdukunan. Sementara para dukun itu adalah agen-agen setan yang ingin menyesatkan manusia.






SYIRIK ASHGOR (KECIL)

Syirik Ashghor atau Kecil adalah syirik yang tidak mengeluarkan seseorang (pelakunya) dari Islam, akan tetapi mengurangi tauhid dan membahayakannya serta diancam dengan siksa yang pedih di akhirat kelak.

Di antara bentuk-bentuk syirik ashghor tersebut ialah:
1. Riya' (beramal soleh untuk dilihat dan dipuji manusia).


Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rosululloh saw bersabda:
"Sesungguhnya yang pertama-tama diadili pada hari kiamat kelak ialah tiga orang.

(Pertama) Orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan akhirat, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Alloh maka dia pun mengakuinya. Alloh bertanya kepadanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Aku berperang karena Engkau hingga syahid'. Alloh menjawab, 'Engkau berdusta. Sebenarnya engkau berperang supaya orang-orang mengatakan: 'Dia adalah seorang pemberani.' Dan memang begitulah yang dikatakan orang tentang dirimu.' Kemudian Alloh memerintahkan agar orang itu diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.

(Kedua) Seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta menghafal al-Qur'an. Dia didatangkan ke pengadilan akhirat, lalu diperlihatkan nikmat-nikmat Alloh kepadanya. Maka dia pun mengakuinya. Alloh bertanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya karena-Mu serta aku menghafal al-Qur'an karena-Mu. Alloh berfirman, 'Engkau berdusta. Sebenarnya engkau mempelajari ilmu agar orang-orang mengatakan: 'dia adalah orang yang berilmu' dan engkau menghafal al-Qur'an agar orang-orang mengatakan: 'Dia adalah seorang qari' (penghafal al-Qur'an)'. Dan memang begitulah yang dikatakan orang tentang dirimu.' Kemudian Alloh memerintahkan agar orang itu diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.

(Ketiga) Orang yang diberi kelapangan rizki oleh Alloh dan berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Alloh. Maka dia pun mengakuinya. Alloh bertanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab, 'Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar harta dibelanjakan di jalan itu, melainkan aku belanjakan hartaku di jalan itu karena-Mu'. Alloh berfirman, 'Engkau dusta. Sebenarnya engkau melakukan hal itu agar orang-orang mengatakan: 'Dia seorang pemurah'. Dan memang begitulah yang dikatakan orang tentang dirimu.' Kemudian Alloh memerintahkan agar orang itu diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka. " (HR. Muslim, Nasa'i, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)

2. Bersumpah atas nama selain Alloh swt.


Rosululloh saw bersabda:

(( مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ ))
"Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Alloh maka sungguh dia telah kafir atau syirik." (HR. Tirmidzi dan Hakim)
Dan perbuatan ini termasuk dosa besar.
Abdullah bin Mas'ud ra pernah berkata:
( َلأَنْ أَحْلِفَ بِاللهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ صَادِقًا )

"Aku bersumpah atas nama Alloh padahal berdusta lebih aku sukai daripada bersumpah atas nama selain-Nya meskipun jujur."

Hal ini karena bersumpah atas nama Alloh padahal berdusta termasuk dosa besar, sedangkan bersumpah atas nama selain Alloh meskipun jujur termasuk syirik yang dosanya lebih besar dari yang pertama.

3. Ucapan seseorang: "Kalau bukan karena anu tentu kita akan celaka".
Ibnu 'Abbas ra berkata tentang ayat:

"Maka janganlah kalian mengadakan tandingan bagi Alloh padahal kalian mengetahui." [QS. al-Baqarah (2): 22]
Maka ia berkata:

"Ia adalah syirik yang lebih lembut dari rambatan seekor semut di atas batu hitam di malam yang kelam, yaitu jika engkau berkata, 'Demi Alloh dan demi kehidupanmu wahai fulan dan demi kehidupanku.' Atau engkau berkata, 'Kalau bukan karena anjing ini tentulah kita kedatangan pencuri', atau 'Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentulah kita kedatangan pencuri.'"

4. Ucapan seseorang: "Masya Alloh wa syi'ta" (kehendak Alloh dan kehendakmu)

Seorang Yahudi pernah datang kepada Nabi saw lalu berkata, "Kalian ini berbuat syirik, kalian mengatakan masya Alloh wa syi'ta dan juga kalian mengatakan demi Ka'bah." Maka Nabi pun menyuruh kaum muslimin jika ingin bersumpah supaya mengucapkan, "Demi Robb Ka'bah" dan agar mengucapkan "Masya Alloh tsumma syi'ta" (atas kehendak Alloh kemudian kehendakmu)." (HR. Ahmad dan Nasa'i)
Dari Ibnu 'Abbas ra ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw: 'Masya Alloh wa syi'ta' (atas kehendak Alloh dan kehendakmu)', maka beliau saw menegurnya:

(( أَجَعَلْتَنِيْ ِللهِ نِدًّا؟ قُلْ مَاشَاءَ اللهُ وَحْدَهُ ))
'Apakah engkau menjadikan aku sekutu bagi Alloh? Uca
pkanlah Masya Alloh saja." (HR. Nasa'i)

5. Mengharapkan dunia dengan amal solehnya.

Ini termasuk syirik dalam niat dan tujuan. Orang yang melakukannya terancam dengan siksa neraka dan terhapusnya pahala amal solehnya.

Alloh swt berfirman:

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal-amal mereka di dunia dengan sempurna sementara mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat selain neraka dan gugurlah amal-amal yang telah mereka usahakan di dunia serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Hud (11): 15-16]

Doa penawar syirik khofi (yang tersembunyi)

Ikhlas adalah taklif (pembebanan) dari Alloh swt, dan Alloh swt tidak akan membebani seseorang dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Maka kewajiban seorang muslim adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan keikhlasan dalam setiap amalnya. Kemudian setelah itu dia memohon ampun kepada Alloh swt jika seandainya dalam amal-amalnya itu masih tersusupi riya'.

Oleh karena itu, Rosululloh saw mengajarkan kepada umatnya untuk berlindung kepada Alloh swt dari syirik yang kita ketahui, dan memohon ampun dari syirik yang tidak kita ketahui.

Dari Abu Musa al-'Asy'ari ia berkata bahwa Rosululloh saw bersabda, "Wahai sekalian manusia, waspadalah terhadap syirik, sesungguhnya ia lebih tersembunyi daripada rambatan seekor semut." Salah seorang sahabat berkata, 'Wahai Rosululloh, bagaimana kita bisa menghindarinya padahal ia lebih tersembunyi daripada rambatan seekor semut,?' maka Beliau saw bersabda, 'Katakanlah:

(( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ ))

"Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedang aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad)

KISAH-KISAH KETELADANAN

Betapa kuatnya para sohabat dalam memegang tauhid dengan sangat teguh, kita dapat melihat dari beberapa kisah berikut:

  • Ketika Bilal masuk Islam maka tuannya -Umayyah bin Khalaf- menyiksanya dengan cara menjemurnya di tengah padang pasir yang panas dalam keadaan telentang. Lalu Umayyah meletakkan batu besar di atas dada Bilal seraya berkata, "Engkau akan terus dibiarkan begini sampai engkau meninggalkan agama Muhammad serta memuji-muji Latta dan 'Uzza." Tetapi dengan tegar Bilal tetap berkata, "Ahad, Ahad. (Dia Maha esa, Dia Maha esa)." Sampai akhirnya lewatlah Abu Bakar yang kemudian membeli Bilal untuk dimerdekakan.
  • Seorang wanita yang lemah, az-Zubairoh , disiksa oleh Quraisy karena masuk Islam. Ia disiksa agar mau meninggalkan Islam namun ia bersikukuh untuk tetap memeluk islam. Ia terus disiksa hingga kedua matanya buta. Maka orang-orang Quraisy pun berkata, "Ia buta karena kutukan Latta dan 'Uzza." Mendengar itu ia marah dan berkata, "Sekali-kali tidak!" , maka seketika itu pula Alloh mengembalikan penglihatannya.

Setelah melihat bukti-bukti kenabian Musa as yang jelas, para tukang sihir Fir'aun pun beriman kepada Musa as.
Melihat itu Fir'aun marah besar dan mengancam mereka,
"... Apakah kalian beriman kepada Musa sebelum aku mengizinkan kalian?. Sesungguhnya Musa adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepada kalian. Maka sungguh aku akan potong tangan dan kaki kalian secara bersilang dan aku akan menyalib kalian semua pada pangkal pohon kurma dan nanti kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya". [QS. Thoha (20): 71].


Tetapi para tukang sihir yang telah beriman itu menjawab ultimatum Fir'aun dengan tegas,
"... Tidak masalah! karena sesungguhnya kami akan kembali kepada Robb kami, sesungguhnya kami sangat mengharap bahwa Alloh akan mengampuni kesalahan-kesalahan kami karena kami adalah orang-orang yang pertama beriman". [QS. asy-Syu'aro' (26): 50-51].

Para tukang sihir itu juga berkata,
"... Kami sekali-kali tidak akan memilihmu (wahai Fir'aun) dengan meninggalkan bukti-bukti kebenaran yang telah datang kepada kami -demi Dzat Yang menciptakan kami- maka putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Robb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Alloh lebih baik serta lebih kekal. Sesungguhnya barangsiapa yang datang kepada Robbnya dalam keadaan penuh dosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Robbnya dalam keadaan beriman lagi beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang akan memperoleh tempat-tempat yang tinggi (surga). [QS. Thoha (20): 72-75].

  • 'Umar bin Abdul 'Aziz rh adalah seorang khalifah yang adil. Beliau sangat takut kepada Alloh akan adzab-Nya, banyak memohon perlindungan kepada Alloh dari neraka. Di antara doanya yang sering dimohon adalah:

( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَطَعْتُكَ فِيْ أَحَبِّ اْلأَشْياَءِ إِلَيْكَ وَهُوَ التَّوْحِيْدُ، وَلَمْ أَعْصِكَ فِيْ أَبْغَضِ اْلأَشْياَءِ إِلَيْكَ وَهُوَ الْكُفْرُ، فاَغْفِرْلِيْ ماَ بَيْنَهُماَ )

"Ya Alloh, sesungguhnya aku telah mentaati-Mu dalam perkara yang paling Engkau cintai yaitu tauhid, dan aku tidak mendurhakai-Mu dalam perkara yang paling Engkau benci yaitu kufur, maka ampunilah apa-apa yang ada di antara keduanya."

Tiada keselamatan di dunia dan akherat kecuali dengan meyakini dan mewujudkan tauhid. Tauhid adalah rambu utama dan pertama di jalan panjang shirothul mustaqim. Siapa yang berpegang teguh kepada prinsip ini sampai akhir hayatnya, niscaya Alloh swt menjamin baginya surga, meskipun ia datang menghadap Alloh swt dengan membawa dosa sepenuh bumi. Sebaliknya, barangsiapa yang berjumpa dengan Alloh swt kelak dalam keadaan membawa dosa syirik, maka sekali-kali Alloh swt tidak akan mengampuninya dan ia akan kekal di neraka jahannam selama-lamanya. Na‘udzu billahi min dzalik!


Demikian agungnya tauhid dan demikian kejinya syirik. Akan tetapi sebagaimana dinyatakan oleh Imam Bukhori rh dalam shohihnya:
((العلم قبل القول والعمل))
"Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan."


Meka kita tidak bisa bertauhid dengan benar dan menjauhi lawannya yaitu syirik kecuali dengan ilmu, yaitu ilmu yang diwarisi dari Rasululloh saw. Oleh karena itu, betapa pentingnya kita mempelajari dengan seksama tentang masalah tauhid. Kekeliruan paham dalam hal ini akan berakibat sangat fatal. Betapapun besar jerih payah yang kita korbankan dalam mengkaji dan mempelajari tauhid tidaklah sebanding dengan manfaat yang besar dan buah-buah manis yang akan kita dapatkan dari hasil mempelajari tauhid tersebut.

Renungkanlah firman Alloh swt berikut:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Robb kami ialah Alloh' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (di saat kematian hampir menjemput mereka) seraya mengatakan: 'Janganlah kalian merasa takut dan sedih; tetapi bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Alloh kepada kalian. * Kamilah para sahabat dekat kalian ketika di dunia dan juga di akherat; di dalam surga itu kalian akan memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan apa saja yang kalian minta. * Sebagai hidangan dari Robb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ibnu Abbas ra menafsirkan firman Alloh swt di atas:
"... kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka ...', yaitu di atas syahadat La ilaha illalloh."
Betapa besar perhatian Rosululloh saw terhadap dakwah tauhid sehingga selama tiga belas tahun beliau tinggal di Mekkah, beliau mencurahkan segenap tenaganya untuk menyampaikan dakwah tauhid dan membina aqidah para sahabatnya. Ayat-ayat al-Quran yang turun ketika itupun juga berbicara tentang masalah tauhid. Hal ini dikarenakan tauhid adalah fondasi bagi seluruh bangunan Islam lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar